[BAW: Denmark] Missing: Soul

Hasil gambarsource : leicawonderland on tumblr

Missing: Soul

by sleepingpanda

Pertama kali Dad mengajak kami ke Tivoli Park adalah pada musim dingin tahun 2002. Salju turun agak deras, membuat Lukas memberengut dibalik mantel tebalnya dengan hidung merah dan sebelah tangan ada pada genggaman jemari hangat Dad. Ah, Aku sadar betul bocah ini hanya pura-pura. Sekadar jaga gengsi, walaupun dalam hati ia senang bukan main. Itu hari selasa ketiga pada bulan November, omong-omong. Beruntungnya, bukan hari minggu, hingga Mom terpaksa mengedarkan surat izin bohong-bohongan pada sekolah.

Bus pertama mengantar kami melewati jalan bata licin menuju pusat kota. Berhenti pada halte terdekat dari stasiun Kopenhagen dan memutuskan berjalan sedikit sampai ambang gerbang Tivoli yang bersalju. Sederhana, kami hanya membawa beberapa roti lapis buatan Mom dan senyum menggantung di bibir Lukas, kontras dengan alis-alisku yang bertaut hingga hampir bersentuhan satu sama lain.

Rasanya sedikit aneh. Karena selama enam belas tahun hidupku dan dua belas tahun punya Lukas, baru pertama kali kami menghabiskan waktu bersama Dad―dalam artian yang benar-benar berkualitas. Hanya Aku, Lukas dan Dad. Terbiasa melewatkan sarapan hingga makan malam tanpa Dad, sayangnya membuat kami justru tak begitu terbiasa dengan presensi beliau. Kalau sebagian masa remaja gadis lain dihabiskan dengan bermanja-manja dengan ayah mereka, bilang saja aku tak begitu mengenal Dad.

Dad tinggal terpisah dengan kami sejak lama, di bagian lain dari Denmark yang bahkan Mom tak pernah menyebutkannya. Katanya sih, sebagai tindakan antisipasi jika tahu-tahu aku kabur dari rumah (Well, punya anak gadis pada umur dimana hormon berlebih sangat susah dikendalikan bisa menjadi masalah besar bagi Mom).

Tak pernah sekalipun aku menanyakan alasannya.

lucu.

Enam belas tahun Odense merasa tak punya hak untuk menginterogasi ibunya tentang perceraiannya dengan Dad.

Kami menghabiskan waktu yang cukup menyenangkan hari itu. Aku membeli beberapa bungkus permen gula yang konsumsinya sungguh dibatasi oleh Mom dan Lukas melakukan hal-hal yang sewajarnya dilakukan anak umur dua belas tahun ketika mengunjungi taman bermain, kecuali saat ia muntah-muntah sehabis naik wahana komidi putar. Itu sore yang tak biasa dimana aku―dan mungkin juga Lukas―menyadari bagaimana seluruh gestur orang asing’ bisa begitu terasa nyaman.

“Bukan seperti itu Luke. Ingatanmu payah, ya.”

Nyvhavn pada jam sepuluh pagi bisa jadi hal terburuk, sungguh, termasuk angin bergaram dan Lukas. Aku tak pernah mengada-ada kalau hal pertama yang ingin aku lakukan setelah melihat Lukas pagi ini adalah menendang pantatnya. Ia payah, selalu berdeklarasi bisa mengingat nama puluhan mantan pacarnya dalam satu menit sedangkan mengingat hal-hal kecil seperti cara makan sepiring acar ikan Skandinavia yang benar saja ia tidak bisa. Ditambah lagi, ia memilih tempat duduk tepat di depan rumah makan bercat merah muda. Ew, terkadang aku heran dengan selera pria ini.

Nyvhavn belum terlalu ramai pengunjung. Kebanyakan pelaut dan perahu-perahunya masih belum terlalu mengisi dek-dek si pelabuhan komersil yang artinya kami masih punya cukup waktu sebelum metro pertama ke pusat kota sampai di stasiun. Mengetahui hal itu, aku hanya mengaduk asal salad milikku tanpa ada secuilpun niat menyuapkan ke mulut.

Aku tidak berharap Lukas cepat-cepat sadar kalau acara makan pagi ini begitu penting mengingat ia masih saja sibuk bergaul dengan koran paginya dan enggan mengalihkan atensi dari acar ikan dengan saus belepotan dan kelebihan taburan thyme.

Masalahnya, ia yang pertama kali menggagas ide tentang agenda tahunan makan pagi berdua di pinggiran kanal Nyvhavn sembari mengomentari foto-foto lama dan mengenang masa lalu. Maklum, Lukas sok sibuk. Kami jarang bertemu sejak Lukas dapat pekerjaan dan pindah ke Aarhus. Kami hanya bisa bertemu paling banyak enam bulan sekali―itupun kalau ia tak banyak alasan ini-itu.

“Oh, please, Ody. Kalau ‘bukan seperti itu’ yang kau maksud makan dengan tangan kiri, aku sudah tak melakukannya.” Lukas mencebik tiba-tiba, melihatku dengan pandangan paling meremehkan sedunia. “Kau yang payah, aku berhenti melakukannya saat umur lima belas karena Mom selalu mengeluh.”

Yang benar saja. Mungkin Ia benar tentang keluhan Mom, tapi sebagian besar perubahan tabiat makannya adalah karena gadis yang ia taksir tidak suka pria kidal. Aku cukup tahu tentang masalah percintaan Lukas walaupun ia jarang cerita (Lukas tak begitu suka siapapun melewati batas privasinya). Namun sebagai kakak yang baik, aku harus punya waktu untuk mencari informasi―sebagai bahan olok-olok tentunya.

“Yaampun, aku baru sadar kau masih memakai popok saat usia lima tahun.” Aku membalik-balik lembaran lusuh dengan gambar-gambar Lukas. Menertawakannya sebanyak mungkin sebagai ajang balas dendam karena telah mengataiku payah. Ingatkan kalau Odense Skarholt merupakan tipikal yang cukup kompetitif dalam urusan olok-mengolok, apalagi terhadap adiknya.

Lembarannya terus dibalik, sebagian besar hanya berisi aku atau Lukas dengan tampang bodohnya dan kadang ada foto Mom. Kami terus melempar candaan tentang bagaimana masa muda kami dihabiskan dengan hal-hal semi tidak penting seperti adu mulut perkara sebotol limun (Mom sangat berbaik hati mengabadikan momen-momen menggelikan macam itu hingga kami hanya dapat menahan malu sebisanya).

Terus dibalik, sampai dimana konversasi pagi kami berhenti ketika halaman terakhir menampilkan foto Dad―dan kami (kuingatkan terakhir kali aku membuka album ini, foto Dad tidak ada disitu). Lantas bak roller coaster, topik perbincangan kami berubah menjadi hal-hal sensitif.

Aku mengakui sampai detik ini, perbincangan tentang Dad selalu menjadi masalah serius untuk dibicarakan, maksudku yang masuk dalam konteks ‘tak ada acara canda-candaan’ jika menyangkut Dad. Sekejap aku dan Lukas hanya menutup mulut, enggan menyerukan komentar.

“Kalau misalnya saat ini Dad masih ada, apa yang akan kau lakukan?” Lukas memotong, menggulung koran paginya menjadi bentuk seadanya. Menyisihkan piring acar ikannya menjauh, mengindikasikan ia yang tak lagi punya nafsu untuk mengunyah sisa sarapannya.

Aku berpikir keras atas pertanyaan itu. Sangat.

Mungkin kalau Lukas menanyakan pertanyaan ini beberapa belas tahun kebelakang, aku akan lebih memilih tertawa dan menganggapnya sebagai guyonan. Aku tidak akan terlalu ambil pusing karena memang dulu, Dad tak pernah ada untuk kami dan begitupun sebaliknya.

Tapi sejak umurku menginjak enam belas, pertanyaan ini bisa begitu berbeda.

Karena sehari setelah mengunjungi Tivoli, kami diberitahu kalau Dad sudah pergi. Padahal kemarin tangannya masih hangat. Mom hanya tersenyum tipis; pasrah, yang langsung aku asumsikan bahwa kunjungan kami ke Tivoli hari itu memang merupakan sebuah konspirasi antara pihak Mom dan Dad. Bagaimana kami yang selama ini sangat dijaga jaraknya dengan Dad, tiba-tiba saja diperbolehkan pergi, sampai-sampai Mom rela jika kami membolos.

Mom tahu bahwa Dad bisa pergi kapan saja, dalam jangka waktu sesingkat-singkatnya.

Mom curang.

Kami selalu terbiasa tanpa kehadiran Dad ditengah-tengah ruang keluarga. Tidak menjadi masalah bagiku maupun Lukas karena memang momen yang bisa kuingat bersama Dad hampir menyentuh angka nol. Namun setelah hari itu, aku bisa merasakan bahwa kehadiran seorang ayah menjadi begitu berarti. Bagaimana kami bisa menjadi begitu kehilangan padahal sebelumnya Dad tak pernah ada bersama kami.

“Membuat Dad ada bersama kita. Karena enam belas tahun Odense yang payah, tak bisa melakukannya.” Lanjutku, menjawab seadanya pertanyaan Lukas.

Dengan itu senyum lukas mengembang, agaknya setuju dengan jawaban super dramatis dan emosional dariku dan pagi itu kami memutuskan bahwa agenda tahunan Odense dan Lukas bertambah satu. Bosan ‘kan jika setiap kali bertemu harus di sepanjang kanal Nyvhavn. Maka yang bisa kami lakukan sekarang hanyalah mereka ulang tiap detil momen bersama Dad, berulang setiap tahun, terus hingga kami nantinya lelah. Dengan begitu kami tak akan takut jika Dad nantinya akan hilang dari ingatan kami.

 “Ke Tivoli sekarang?”

Satu anggukan dariku sebelum kami meninggalkan Nyvhavn yang mulai ramai dan segala angin bergaram yang membuat mataku berair, mengusap kepala Lukas sebelum melenggang menjauh. “Ingat ya, kau harus muntah-muntah sehabis naik komidi putar.”

“Yaampun, Ody. Bisakah kau buat pengecualian untuk yang satu itu?―”

“―Mana ada pria dua puluh enam tahun masih naik komidi putar?”

 

We miss you, Dad

 

end

 

 

A/N :

  1. Halo, aku Asa in case ada yang belom kenal (pasti banyak orang baru pertama kali ngepost). Hiks.
  2. Really excuse this one, super-duper-amburadul-sangat ini bikinnya H-2 jam dalam keadaan unstable padahal aku paling gabisa bikin fiksi secepet itu dan pas aku lagi kena wb jadi beneran langsung ketik aja gapake mikir, biasa mahasiswa, suka nunda-nunda terus kalo udah mepet deadline ngeluh-ngeluh sendiri. Ini semua latarnya Denmark dan believe me riset secepet kilat tuh ga efektif banget, jadi maaaf kalo ada yang salah-salah. tolong dibenerin juga 🙂
  3. Un-beta-ed aku ga ngecek lagi soalnya keburu deadline jadi maaf kalo adaa typo-typo.
  4. Cuma mau bilang cherish the moment with your dad selagi bisa karena kadang, kita ga bakal kerasa, tau-tau tiba-tiba orang yang kita sayang udah gaada :’)
Advertisements

5 thoughts on “[BAW: Denmark] Missing: Soul

  1. marooness

    waaa yg keluarga2 gini selalu bisa deh bikin ambyar. apalagi ini ada ingatan tentang masa kecilnya gt, ih jadi kangen T.T

    dan soal papa, ya ya ya sm bgt kayak aku… remaja2 gini jd berasa makin jauh sm papa. entah itu sibuk main trs atau sm2 sibuk apa gimana hiks.

    kusuka penyampaiannya, ga terlalu menye2 tp deep 🙂

    nice writing 😀

    Like

    • SleepingPanda

      haloo maaf ya aku baru bales sekarang ini baru buka wp setelah sekian lama :” iyah kadang pas kita gede tuh kita sibuk sama urusan kita sendiri dan lain lain terus gasadar jadi makin jauh sama papa :’) makasih yah udah baca ❤

      Like

  2. Kudou

    Halo salam kenal kak asa! 😀 aku dhila, 96l 😀
    Ceritanya mulus aja gitu huhu, kusuka.. scara garis besar gak keliatan sedih tp pas dibaca huhuu nyes ikut berkabung aku :” Ah kece kali lah kak, padahal bikinnya pas udah jam2 trakhiir 😀
    Keep writing kak, smoga webenya cepat pergii 😀

    Like

    • SleepingPanda

      halo dhilaa maaf yah baru bisa bales komen kamu sekarang aku udah lama nggak buka wp :” aku soalnya emang gabisa bikin cerita yang ngefeel gitu hiks makasih banget yah udah baca ini aku juga masih belajar kok 🙂 once again thanks for reading :))

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s